Makna Tobat dalam Alquran

Makna Tobat dalam Alquran

Makna Tobat dalam Alquran - Kata tobat dalam Alquran memiliki banyak pengertian. Kita akan membuka perbincangan kita dengan merenungkan bcberapa ayat yang berkenaan dengan tobat untuk memperoleh berkah (li al tabarruk)

Makna Tobat dalam Alquran


Makna Tobat

Selain pula kita akan peroleh pemahaman terperinci dari penjelasan tentang macam-macam tobat dalam Alquran. Ayat-ayat tersebut antara lain:


1. "Hai orang orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurnimurninya" (QS. at Tahrim: 8).


2. "Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya" (QS. an Nisâ': 17). 


3 "Dan tidaklah tobat itu diterima Allalh dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang. 'Dan tidak (prula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran" (QS. an Nisá': 18).


4. "Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. asy Syûra: 25). 


5.Yang mengamfpuni dosa dan menerima tobat lagi keras hukuman-Nya" (QS. al Mu'min: 3).
Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang mengisyaratkan makna tobat, penerimaan dan penolakannya, serta syarat-syaratnya. Dengan demikian tobat hukumnya wajib, baik disebabkan perbuatan buruk maupun pclanggaran kewajiban. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa hukum-hukum dalam syariat Islam ada lima:


1. Wajib (berpahala jika dikerjakan, berdosa jika ditinggalkan

2. Haram (berpahala jika ditinggalkan, berdosa jika dikerjakan


3. Sunah (berpahala jika dikerjakan, tidak berdosa jíka ditinggalkan).


4. Makruh (berpahala jika ditinggalkan, tidak berdosa jika dikerjakan, namun tidak disukai)


5. Mubah (boleh dikerjakan, boleh ditinggalkan)


Seseorang dianggap berdosa atau pelaku maksiat jika meninggalkan kewajiban atau melakukan yang diharamkan tanpa suatu rukhshah syar'iyyah (dispensasi syara ).


Adakah Orang Tanpa Dosa?

Sebagian dari kita masih banyak yang tertipu lantaran kebodohan, ada juga lantaran kesombongan dan dosa-dosa. Mereka misalnya berkata, "Saya bukan termasuk orang begini atau begitu. Banyak orang mengatakan bahwa saya bukan orang yang dikenal sebagai orang yang punya dosa. Karena itu, tidak perlu bagi saya untuk bertobat dan memohon ampunan; kenapa saya mesti bertobat dan memohon ampunan? Untuk dosa apa saya mesti memohon ampunan?"


Orang seperti ini, tanpa sadar, telah terperosok ke lembah dosa yang lebih dalam. Dengan kejahilan atau keengganannya untuk mengetahui, ia berkeyakinan bahwa yang disebut dosa hanyalah dosa sebagaimana yang diketahui orang kcbanyakan. Yaitu dosa-dosa yang tampak saja seperti minum minuman keras, berzina, dan sebagainya.


la lupa bahwa apa-apa yang telah diperbuat hatinya, seperti kedengkian, prasangka buruk, keangkuhan, dan keburukan-keburukan jiwa lainnya, belum lagi ketamakannya dan bisikan-bisikan jahat setan yang selalu meninabobokannya, yang tidak dapat dihindarinya kecuali oleh orang-orang yang dijaga Allah SWT, dapat mendatangkan dosa yang jauh lebih banyak dan besar ketimbang yang dilakukan lidah dan mata. [1]


Dosa yang menyelinap dalam jiwa dan hatinya, akan menjadikan seseorang mencapai tingkat mengolok-olok, menghina orang lain, bahkan melupakan hari di mana dirinya akan dihimpun dan dikumpulkan, dan segala kesalahannya akan ditampakkan: 

"(Ingallah) hari (yang diwaktu itu) Allah mengumprulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.. " (Qs ath Taghábun: 9).
 

la lupa bahwa Allah SWT: 

"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati" (QS. al Mu'min: 19), 

dan:

 

"Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi" (QS. Thâhâ: 7).
 

Tidakkah kita mengetahui bahwa syirk khafi (syirik tersembunyi) atau riya, durhaka kepada kedua orang tua, memakan harta riba, semuanya adalah dosa? Bahkan bukan hanya sekadar dosa, melainkan juga termasuk dosa-dosa besar! Demikian pula, apakah kita telah lupa bahwa mengumpat, menyebar dusta, membantu orang yang berbuat zalim atau hidup rukun bersama mercka, memfitnah yang bobotnya lebih dahsyat dari pembunuhan dan dosa-dosa lainnya, bahkan termasuk diantara dosa-dosa besar lainnya, bukanlah dosa dan tak perlu diingat, sehingga kita tak perlu susah-susah untuk segera meninggalkannya dan memohon ampunan kepada-Nya? Kita berlindung kepada Allah dan kita memohon pertolongan-Nya untuk menghadapi nafsu amarah jahat kita dan godaan setan nan terkutuk.
 

Orang cerdas dan arif akan menganggap dirinya telah lenyap dan segera bermohon kepada Allah untuk mengembalikannya, segera menghentikan perbuatan dosa dan memperbaiki diri segala kelalaiannya sclama ini kepada Tuhannya, lalu bersungguh-sungguh berubah karena takut akan azab Tuhannya di akhirat. Firman Allah: 

"Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhiral); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar) " (QS. as Sajdah: 21).
 

Dikatakan menurut ayat di atas bahwa cobaan-cobaan yang menimpa pada harta, keluarga, dan diri, bukanlah azab yang besar. Sebab azab yang besar adalah disiksa neraka jahanam (kita berlindung darinya kepada Allah). Frase "mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)" artinya kembali keluar dari kemaksiatan, dan ini hanyalah di kehidupan dunia. [2] Ini sebagaimana ditegaskan firman Allah SWT.

Catatan Kaki

[1] Allah SWT telah memerintahkan kita untuk meninggalkan dosa, baik yang lahiriah maupun batiniah, yang kelihatan maupun yang tidak, lewat firman-Nya:
Dan unggakanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang miereka telah kerjakan" (QS. al An'âm: 120).  
Juga firman-Nya: "Katakanlah, Dan janganlalh kamu mendekati perbuatanperbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yarng tersembunyi.. "(QS. al An'âm: 121).

[2] Irnyad al Qulüb, juz I, hal. 46.