
9 Waktu Mustajab Untuk Berdoa, Dalam keseharian
9 Waktu Mustajab Untuk Berdoa, Dalam keseharian - Doa, bentuk komunikasi yang sangat pribadi antara seseorang dengan Allah, itu adalah kebutuhan mutlak dalam hidup umat Islam. Itu adalah hubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dan dalam empat atau lima menit doa seseorang dapat berbicara tentang apa saja.

Mungkin oleh keadaan yang menghimpit, atau sesuatu yang mereka ingin syukuri, atau bahkan percakapan sederhana dengan-Nya, Doa untuk Muslim memberikan harapan yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Allah menekankan pada kebutuhan kita untuk terus melakukan percakapan dengan-Nya melalui Doa, dan bahkan mengatakan bahwa Allah akan mengingat mereka yang mengingat-Nya. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya kapan waktu terbaik dalam satu hari ketika doa atau doa Anda paling efektif dan Mustajab?
9 Waktu Mustajab Untuk Berdoa sesuai hadits
Berikut ini 9 Waktu Mustajab Untuk Berdoa, Dalam keseharian yang sering terlewatkan berdasar pada hadis
1) Di Sepertiga Malam Terakhir (Sahih Bukhari)
Bagi yang belum tahu, sepertiga terakhir malam bisa dihitung dengan menghitung jam antara Maghrib dan Subuh Azaan. Membagi waktu menjadi tiga bagian, bagian terakhir adalah sepertiga terakhir malam. Saat itulah sholat Tahajud dilakukan dan saat itulah doa efektif.
"Perintah Allah turun ke langit dunia di waktu tinggal sepertiga yang akhir dari waktu malam, lalu berseru : Adakah orang- orang yang memohon (berdoa) / sholat tahajud, pasti akan Kukabulkan, bila ada orang yang meminta, pasti akan Kuberi dan adakah yang mengharap / memohon ampunan, pasti akan Kuampuni baginya. Sampai tiba waktu subuh.
dari Ka'b bin Murrah Al Bahzi ia berkata;
Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "(Bagian) malam manakah yang paling mustajab (dikabulkannya do'a)?" -dan sekali waktu Sufyan mengatakan; Asma' (lebih didengar) - beliau menjawab: "Sepertiga malam terakhir. Barangsiapa yang memerdekakan satu orang budak wanita, makan Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dengan setiap organ budak wanita itu (sebagai tebusannya) dari api neraka."(HR. Ahmad)[1]
dari 'Amru bin 'Abasah As Sulami bahwa dia berkata; aku bertanya;
"Wahai Rasulullah, pada malam hari yang manakah yang paling di dengar (mustajab)?" beliau bersabda: "Di tengah malam yang terakhir, maka shalatlah kamu dengan shalat apa saja yang kamu kehendaki, karena sesungguhnya shalat (pada waktu itu) di saksikan (oleh para malaikat) dan di catat (pahalanya) sampai kamu shalat shubuh, setelah itu, berhentilah sampai matahari terbit dan meninggi sampai seukuran satu atau dua tombak, karena sesungguhnya (antara waktu itu) bertepatan dengan keluarnya tanduk setan dan orang-orang kafir sembahyang kepadanya. Setelah itu, shalatlah kamu dengan shalat apa saja yang kamu kehendaki, karena pada waktu itu, shalat di saksikan (oleh para Malaikat) dan di catat (pahalanya), sehingga tombak sama lurus dengan bayangannya, kemudian berhentilah (sejenak) karena sesungguhnya neraka Jahannam di nyalakan dan semua pintu-pintunya di buka, dan apabila matahari mulai condong (ke barat), Setelah itu, shalatlah kamu dengan shalat apa saja yang kamu kehendaki, karena pada waktu itu, shalat di saksikan (oleh para Malaikat) dan di catat (pahalanya), sampai kamu mengerjakan shalat Ashar, setelah itu berhentilah sampai matahari terbenam, karena (waktu itu) bertepatan dengan terbenamnya kedua tanduk syetan dan orang-orang kafir sembahyang kepadanya…" (HR. Abu Daud)[2]
2) Didalam Sujud (Sahih Muslim)
Sajda, atau sujud, adalah bentuk terbesar dari menunjukkan kerentanan. Postur tersebut membuktikan bahwa seseorang telah sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah SWT, dan mereka menerima Dia sebagai Yang Mahatinggi.
dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda,
"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dari Rabbnya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim)[3]
dari Ibnu Abbas ra dia berkata,
"Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam membuka tirai penutup, sedangkan manusia bershaf-shaf di belakang Abu Bakar, maka beliau bersabda, 'Wahai manusia, tidak tersisa dari pemberi kabar kenabian melainkan mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan kepadanya. Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca al-Qur'an dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun rukuk maka agungkanlah Rabb azza wa jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu'."(HR. Muslim)[4]
3) Saat Adzan dan Iqamah (Sahih Tirmidzi)
Ada Doa khusus yang disediakan untuk setiap kali Adzan dipanggil. Namun demikian, perlu diingat bahwa akan sangat efektif jika seseorang tetap melanjutkan shalatnya juga, daripada hanya berdoa dan pergi setelah Adzan.
Sabda Rasulullah saw.
"Tidak akan ditolak, suatu doa yang dipanjatkan antara waktu azan dan iqamah." (HR. Tirmizi).
4) Doa Setelah Sholat Wajib (Hadis Tirmidzi)
Allah senang mendengar dari seseorang yang berbicara kepada-Nya setelah mereka melakukan kewajiban wajib kepada Allah. Untuk berbicara kepada-Nya setelah melakukan salah satu dari lima sholat wajib, itu adalah waktu di mana Doa Anda bisa paling efektif.
5) Saat Curah Hujan (Hadis di Ibn Majah, dan Abu Dawud)
Curah hujan adalah berkah dari Allah; untuk negara-negara dengan iklim hangat dan kering, memang demikian. Mungkin curah hujan adalah waktu ketika Allah sangat senang dengan umat-Nya dan meminta sesuatu dari-Nya selama waktu itu adalah waktu yang efektif.
dari [Sahl bin Sa'd], ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dua perkara yang tidak ditolak atau jarang ditolak, yaitu: berdoa ketika adzan, dan (berdoa) ketika susah di saat sebagian mereka membunuh sebagian yang lain (ketika perang)." Musa berkata; dan telah menceritakan kepadaku [Rizq bin Sa'id bin Abdurrahman] dari [Abu Hazim], dari [Sahl bin Sa'd], dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau berkata: " Dan waktu hujan. (HR. Abu Daud)[5]
6) Doa Saat Bepergian (Hadis Sahih Tirmidzi,Abu Daud Dan Ibnu Majah)
Saat bepergian dan bepergian ke berbagai tempat, mengapa tidak berbicara dengan Allah dan meminta kepada-Nya tentang keinginan Anda?
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda :
"Terdapat tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi terjadinya : doa orang yang dizhalimi, doa orang yang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya". (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah dan at-Turmuzi).
Namun Nabi saw menyinggung pula sebab doa seseorang tertolak walupun dalam keaadaan bepergian untuk sebuah ketaatan kepada Allah,
"...Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wasallam menyinggung tentang seorang laki-laki yang Bepergian ketempat yang jauh (untuk melakukan keta'atan), rambut tak terurus serta berdebu memanjangkan (mengangkat) kedua tangannya ke langit sembari berucap: 'wahai Tuhanku! wahai Tuhanku! padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dengan sesuatu yang haram; bagaimana mungkin (orang semacam ini) akan dikabulkan doanya ?". (H.R. Muslim).
7) Saat Berbuka Puasa (Hadis di Tirmidzi)
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Allah senang mendengar Doa yang datang setelah melakukan kewajiban. Puasa adalah salah satu dari 5 rukun Islam; Dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah tertinggi, tidak ada yang lebih baik daripada memanjatkan doa dengan perut kosong meskipun Anda tahu makanan ada di depan Anda.
8) Setelah Bacaan Sholawat Nabi (SAW) (Mutafaq Alaih)
Untuk menunjukkan rasa hormat kepada para Nabi kita tercinta, ada versi berbeda dari Durood. Telah diceritakan bahwa Allah menyukai saat seseorang membuat doa untuk Nabi-Nya Muhammad (SAW), Dia paling senang pada saat itu. Oleh karena itu, bertanya kepada-Nya setelah itu bisa menjadi waktu yang efektif untuk berdoa.
Dari Saydina Ali bin Abi Thalib :
"Tiap-tiap doa itu masih tertutup, sehingga mengucapkan sholawat kepada Muhammad saw dan keluarga Muhammad." (Diriwayatkan oleh ath Thabrani)."
9) Pada Hari Jumat, Dan saat Khatib Duduk diantara Dua Khutbah (Shahih Muslim)
Dari Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya:
"Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma berkata: "Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menceritakan tentang Rasulullah s.a.w. dalam hal shalat Jum'at?" Ia berkata: "Saya -Abu Burdah- menjawab: "Ya, saya pernah mendengar ia berkata: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Waktu yang mustajab itu ialah antara duduknya imam -maksudnya katib, yang dalam dua khutbah diselingi dengan duduk sesaat-." (Riwayat Muslim)
dari Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari ia berkata; Abdullah bin Umar bertanya padaku,
"Apakah kamu pernah mendengar [ayahmu] meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam perihal satu waktu (yang mustajab) pada hari Jum'at?" Abu Burdah berkata; Saya menjawab, "Ya, aku mendengarnya berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Waktunya ialah antara imam duduk (di mimbar) hingga selesai shalat Jum'at." (HR. Muslim) [6]
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. menyebut-nyebutkan hari Jum'at, lalu beliau s.a.w. bersabda:
"Dalam hari Jum'at itu suatu saat yang tidak dicocoki oleh seorang Muslim dan ia sedang berdiri shalat sambil memohonkan sesuatu permohonan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan apa yang dimohonkannya itu." Rasulullah mengisyaratkan dengan tangannya sebagai tanda mempersedikitkan waktu yang dimaksudkan itu." (Muttafaq 'alaih)
dari Anas bin Malik ra dari Nabi Shallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
"Carilah oleh kalian waktu-waktu yang mustajab pada hari Jum'at setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. Thirmidzi) [7]
Allah telah memberi kita begitu banyak kesempatan dalam sehari di mana Dia sangat senang mendengar dari ciptaan-Nya. Allah SWT memberi kita kesempatan demi kesempatan untuk membuat hidup kita lebih baik dengan berbicara kepada-Nya tentang hal itu. Sungguh, Dia adalah Yang Mahatinggi, dan Yang Mahatinggi.
Catatan Kaki
[1] Musnad Ahmad hadis nomor 18138
[2] Sunan Abu Daud hadis nomor 1085 (Lihat: Aunul Mabud)
[3] Shahih Muslim hadis nomor 744 (Lihat: Syarh Shahih Muslim Nawawi)
[4] Shahih Muslim hadis nomor 738 (Lihat: Syarh Shahih Muslim Nawawi)
[5] Sunan Abu Daud hadis nomor 2178 (Lihat: Aunul Mabud)
[6] Shahih Muslim hadis nomor 1409 (Lihat: Syarh Shahih Muslim Nawawi)
[7] Sunan Tirmidzi hadis nomor 451