
Tingkatan-tingkatan Untuk Menjalankan Tobat
Tingkatan-tingkatan Untuk Menjalankan Tobat - Al Syahid Ayatullah Dastaghaib-semoga Allah merahmatinya menyebutkan bahwa tobat memiliki empat tingkatan.

Kembali dari kekafiran pada keimanan, dari keraguan dan kekacauan pada keyakinan dan ketenangan, demikian pula kembali dari akidah batil pada yang hak.
Kembali dari kemaksiatan, kecil maupun besar menuju ketaatan, dari tidak tunduk menuju kepatuhan.
Kembali dari kealpaan menuju pengenalan (ma 'rifah) kepada Allah dan menunaikan perintah-perintah beribadah dengan penuh kesungguhan hati.
Kembali dari kelalaian dari mengingat Allah SWT menuju zikir (selalu mengingat dan menyebut-Nya), dari kejauhan menuju kedekatan, dan dari kekakuan menuju kemesraan dengan-Nya. [1]
Sebagai orang awam, kita tentunya mengakui bahwa beberapa diantara kita, sesuai tingkatan pertama yang disebutkan di atas, kadangkala berada dalam keraguan dan kekacauan, kalau orang-orang kafir-kita berlindung kepada Allah dari kekafiran-yang tidak beragama yang hak, jumlahnya sangat banyak.
Tobat jenis ini tidak akan kita bincangkan di sini. Barangkali juga ada di antara kita yang berada dalam posisi atau item kedua atau ketiga. Dan barangkali sedikit yang berada dalam posisi atau item keempat dari tingkat-tingkat tobat di atas.
Para nabi dan orang-orang yang dijaga Allah-semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada mereka-menurut keyakinan kita telah tersucikan dari berbuat dosa dan maksiat. Namun demikian, mereka boleh jadi berada dalam posisi ketiga dan keempat dalam tobat mereka, sebagaimana yang akan saya jelaskan pada pembahasan mendatang
Syekh Muhammad Husain al Ishfahani berkata,
"Tobat sebagaimana menurut ahli makrifat merupakan ilm (pengetahuan atau kesadaran), hal (keadaan) dan 'amal (perbuatan), yang semuanya menggambarkan kondisi mujü' (kembali). Ya, kadang kala tobat menjadi perwujudan semua segi tersebut, kadan8 Kala hanya sebagian saja, sementara sebagian lainnya disebut istigfar."
7 Tingkatan Tobat
Tobat dalam makna kembali" dapat pula dijabarkan dalam tujuh tingkatan.
Pertama
kembali dari kejahilan dan ketertipuan kepada ilmu (pengetahuan) dan kemantapan hati, karena sclama seseorang belum mengenal keagungan Tuhannya, mengetahui betapa keliru dan jahatnya orang yang mendurhakai-Nya, serta memahami bagaimana dahsyat siksa-Nya, ia belum benar-benar kembali kepada-Nya. Akan tetapi, jika telah benar-benar mengenal keagungan-Nya dan mengetahui betul semuanya itu, berarti ia telah kembali dengan ilmu atau pengetahuan.
Ini seperti yang diisyaratkan dalam sebuah hadis qudsi,
"Barang siapa yang terperosok melakukan dosa besar atau kecil sedang ia mengetahui bahwa Aku bisa mengazabnya ataupun Aku bisa mengampuninya, maka Aku akan memaafkannya. "
Dalam sebuah hadis lain dikatakan,
"Sesungguhnya orang yang tidak menyesal dari berbuat dosa berarti tidak termasuk orang yang mempercayai tobat."
Dalam sebuah riwayat lain dikatakan,
"Seseorang tidak keluar dari dosa kecuali dengan pengakuan."
Kedua
kembali dari kondisi di mana seseorang merasakan manis (masarrah) jika berbuat dosa ke kondisi sebaliknya; merasakan dosa sebagai sesuatu yang menyakitkan. Ini sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah riwayat,
"Tiadalah bagi seorang Mukmin yang berbuat dosa, kecuali merasakan sakit dengan dosa tersebut."
Rasulullah saw. bersabda,
"Barang siapa yang merasa senang dengan perbuatan baiknya, dan merasa pedih dengan kejahatannya, maka ia adalah seorang Mukmin; sebaliknya barang siapa tidak menyesal dengan perbuatan dosanya berarti bukan seorang Mukmin."
Ketiga
kembali dari kondisi merasa gembira dan hebat dengan maksiat yang dilakukan, ke kondisi merasa sedih dan berduka karena telah melakukannya. Ini sebagaimana disyaratkan Imam Ali,
"Cukuplah penyesalan itu dikatakan tobat."
Rasulullah saw. bersabda,
"Penyesalan itu adalah tobat."
Dalam sebuah riwayat lain dikatakan,
"Tiadalah seorang hamba yang terlanjur berbuat dosa, lalu menyesal, kecuali Allah SWT mengampuninya sebelum ia sendiri memohon ampunan."
Keempat
kembali dari kondisi bercita-cita (al 'azm) untuk berbuat maksiat ke kondisi bercita-cita untuk tidak akan mengulanginya lagi selama-lamanya. Ini seperti diisyaratkan Imam Ali,
"Tobat nashuha adalah bahwa seseorang bertobat dari dosa yang telah dilakukannya dan bercita-cita untuk tidak akan mengulanginya lagi."
Dalam sebuah riwayat lain yang menerangkan perihal hakikat tobat, beliau berkata,
"Pembenaran dengan sepenuh hati dan pembuktian diri bahwa ia tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa yang telah dimintai ampunan dari sebab dosa tersebut."
Kelima
kembali dari kondisi mencari perbuatan maksiat kepada kondisi mencari ampunan Allah SWT dengan sepenuh hati, yang diungkapkan lewat hakikat istigfar yang diucapkannya.
Keenam
kembali dari kondisi sedang berbuat maksiat, lalu dengan segera menghentikannya. Atau dalam ungkapan lain, kembali dari kondisi menyimpang menuju kondisi Istigâmah. Ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah riwayat,
"Orang yang tetap melakukan dosa, padahal telah beristigfar demi memohon ampunan, sama saja dengan seseorang yang sedang berolok-olok."
Ketujuh
kembali dari kondisi taqshir (mengabaikan kewajiban), lalu berusaha menggantikan apa-apa yang telah ditinggalkannya, seraya pula mengembalikan hak-hak orang lain yang telah diambilnya dan sebagainya. Ini sebagaimana yang dikatakan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib-semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada beliau- dalam Nahjul Balâghah, yang menerangkan tentang istigfar yang sesungguhnya dari semua tingkatan tobat, sebagaimana telah diungkapkan dalam riwayat-riwayat di atas.
Tobat merupakan sesuatu yang dituntut dari siapa pun, termasuk orang-orang yang telah sampai ke tingkat mukhlishîn dan shâlihin sekalipun. Sebab ada beberapa tingkatan atau derajat yang berbeda-beda yang mesti ditempuh manusia dengan melewati kesukaran-kesukaran dan ujian-ujian. Dalam hal ini, seseorang tidak hanya dianjurkan untuk melihat lahiriah dosa-dosa itu saja tetapi juga melihat yang ada dibaliknya.
Diriwayatkan bahwa penghulu dan orang paling mulia dari seluruh makhluk, Rasululah saw., bersabda dalam munajatnya kepada Allah SWT,
"Kami tidak mampu mengenal-Mu dengan sebenar-benar pengenalan, dan kami juga tidak mampu menyembah-Mu dengan sebenar-benar penyembahan (ibadah)."
Catatan Kaki
[1] Al Zdunub al Kabiral, juz. II, hal. 410.