
Makna Iman Kepada Rasul-rasul Allah
Makna Iman Kepada Rasul-rasul Allah - Beriman kepada Rasul merupakan rukun iman yang ke empat, sedang maknanya ialah Kita mempercayai bahwa Allah SWT telah mengutus Rasul-rasul Nya kepada umat manusia, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur an:

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
Artinya: "Rasul-rasul yang Kami utus sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (An-Nisa' : 165)
Iman Kepada Rasul Allah
Kita mempercayai bahwa Rasul yang pertama adalah Nuh a.s, dan Rasul yang terakhir adalah Muhammad s.a.w., Sebagaimana firman Allah:
إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَٱلنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعْدِهِ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberi wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya." (An-Nisa' : 163).
Dan firman Allah SWT:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا
Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi."(Al-Ahzab: 40).
Muhammad s.a.w. adalah Rasul yang paling mulia, kemudian Ibrahim, Musa, Nuh, dan Isa anak Maryam, sebagaimana dituturkan sendiri dalam AI-Qur'an:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ مِيثَٰقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَٰقًا غَلِيظًا
Artinya:"Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu sendiri (Muhammad), dari Nuh, lbrahim, Musa dan Isa putera Maryam. Dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh. (Al-Ahzab: 7).
Dan kita mempercayai bahwa syariat yang dibawa oleh Muhammad s.a.w. adalah mencakup semua ajaran yang dibawa oleh Nabi-nabi sebelumnya. Sebagaimana disebutkan Al-Qur'an:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ
Artinya: "Dia telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkan Nya kepada Nuh dan apa-apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada lbrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (Asy-Syura: 13).
Rasul Diutus dari Kalangan Manusia
Kita mempercayai bahwa para Rasul itu adalah manusia biasa yang dijadikan Allah.
Para Rasul itu tidak mempunyai sifat ketuhanan (rububiyyah). Alah SwT berfirman tentang Nuh (Rasul pertama), dan memerintahkan Muhammad (Rasul terakhir) untuk mengatakan pula:
قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ
Artinya:"Katakanlah; Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku. Dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan bahwa aku seorang Malaikat." (Al-An 'am: 50)
Selanjutnya Allah menyuruh Rasulullah S.a.w. untuk mengatakan kepada umat manuSia:
قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّ
Artinya: "katakanlah: 'Aku tidak memiliki kemampuan menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula memiliki kemampuan menolak kemadharatan, melainkan apa yang dikehendaKI oleh Allah." (Al-A' raf: 188)
قُلْ إِنِّى لَآ أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا
قُلْ إِنِّى لَن يُجِيرَنِى مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلْتَحَدًا
Artinya: "Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan suatu kemadharatan bagimu dan tidak pula suatu manfaat. Katakanlah: Sesungguhnya sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari azab Allah dan sekali-kali aku tidak mendapat tempat berlindung selain daripada Nya (Allah)." (Al-Jin: 21-22)
Kita mempercayai bahwa semua Rasul itu adalah hamba-hamba Allah. Allah memuliakan mereka dengan kerasulan dan menempatkan mereka sebagai pengabdi dan penyembah Allah yang terbaik, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an dikala Allah memberi pangkat (gelar) kepada Rasulullah yang pertama yaitu Nuh a.s.
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
Artinya: "Anak cucu dari orang-orang yang kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba Allah yang banyak bersyukur." (Al-Isra': 3).
Dan disebut Allah tentang Rasul yang terakhir Muhammad s.a.w.:
تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا
Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (AL-Furqan:1)
Dalam firman Allah SWT tentang Rasul-Rasul lainnya:
Artinya: "Dan ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub, yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang agung dan ilmu-lmu yang tinggi." (Shaad: 45).
Artinya: "Dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan, sesungguhnya dia amat taat." (Shaad: 17)
Artinya: "Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. (Shaad: 30).
Disebut tentang Isa putera Maryam:
Artinya: "Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat kenabian dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti kekuasaan Allah untuk Bani Israil." (Az-Zukhruf: 59).
Dan kita mempercayai bahwa Allah SWT menutup kerasulan dengan Rasul Muhammad s.a.w. yang diutus kepada segenap umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-A'raf:
Artinya: "Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan dilangit dan di bumi. Tidak ada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat Nya (kitab-kitab Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk." (AL-A'raf: 158).
Kita mempercayai bahwa syariat Rasulullah S.a.w. adalah 'Dinul Islam, yang diridhai oleh Allah SWT sebagai agama bagi hamba-hambaNya. Dan Allah tidak menerima dari siapa pun agama selain dari agama Islam, sebagaimana firman Allah:
Artinya: "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali Imran: 19)
Dan firman Allah:
Artinya: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan atasmu nikmat Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Maidah: 3)
Dan firman Allah:
Artinya: "Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima(agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(Ali lmran: 85).
Keyakinan adalah Iman
Siapa yang berkeyakinan bahwa masih ada agama lain selain Islam yang diterima oleh Allah (seperti agama Yahudi, Kristen dan lain sebagainya), maka menurut ajaran tauhid dia telah kafir dan murtad karena tidak mempercayai apa yang disebut dalam Al-Qur'an. Untuk itu dia harus segera bertaubat kepada Allah. Siapa yang tidak mempercayai kerasulan Muhammad s.a.w. untuk seluruh manusia, berarti ia tidak percaya kepada semua Rasul-rasul Allah, bahkan tidak percaya pada Rasul yang menurut anggapannya ia percayai dan ia ikuti jaran-ajaran yang dibawanya. Sebagaimana dalam Al-Quran dikatakan:
Artinya: "Kaum Nuh teluh mendustakan para Rasul-rasul." (Asy-Syu'ara': 105)
Dikatakan bahwa kaum Nuh yang mendustakan Nabi Nuh dicap sebagai kaum yang telah mendustakan semua rasul-rasul, padahal belum pernah ada seorang Rasul pun sebelum Nuh.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran mengatakan:
Artmya: "Sesungguhnya orang-Orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul Nya dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan Rasul-rasul Nyu dengan mengatakan: "Kami beriman kepada sebagian dari Rasul-rasul itu dan kami tidak menpercayai (kafir) dengan sebagian lainnya, serta bermaksud dengan perkataan itu mengambil jalan diantara iman dan kafir. Merekalah orang-orang yang kafir sebenarnya, Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan" (An-Nisa': 150-151).
Generasi Penerus Rasul
Kita mempercayai bahwa tiada Nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w. Siapa yang mendakwakan dirinya atau berpendapat bahwa ada Nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w., maka orang tersebut kafir. Karena dia telah mendustai Allah, Rasul Nya, dan ijma' (kesepakatan) kaum muslimin.
Kita juga mempercayai bahwa sesudah Nabi Muhammad s.a.w. ada Khulafaur Rasyidin yang melaksanakan wilayah (kepemimpinan kaum mukmin) dan dakwah, dan mereka ini adalah yang terbaik dan yang paling afdhal sesuai menurut urutannya Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib. Allah SWT telah menetapkan khalifah yang sesuai dan ahli menurut zamannya. Dan kita juga mempercayai bahwa generasi umat pada waktu Khulafaur Rasyidin adalah generasi yang terbaik dengan segala sifatnya yang baik, sebagaimana fiman Alah:
Artinya:"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah (manusia) dari yang munkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110).
Dan umat yang terbaik adalah generasi sahabat, kemudian tabi'in [1], dan selanjutnya tabi'it tabi'in [2], serta selanjutnya berurutan menurut generasi. Dan senantiasa ada sekelompok, dari setiap umat dan generasi, yang selalu berpegang dengan kebenaran dan tiada tersentuh oleh bahaya dari orang-orang yang menghinakannya sehingga datang penggantinya atau datang ketentuan dari Allah Azza Wajalla.
Adapun yang terdapat dalam bentuk fitnah antara para sahabat atau pertikaian di antara mereka adalah akibat dari perbedaan takwil atau ijtihad dalam furu' [3]. Siapa yang benar mendapat dua pahala dan siapa yang salah akan mendapat satu pahala di sisi Allah SWT. Dan kesalahan mereka pun diampuni oleh Allah.
Kita di zaman sekarang ini Jjangan terseret ikut mempergunjingkan mereka. Kita menyebut tentang mereka hal-hal yang baik-baik dan pujian sehingga tidak sedikit pun terdapat dalam hati rasa tidak senang, karena Al Qur an sendiri mengatakan:
Artinya: "Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan Makkah. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang -orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik." (Al-Hadid: 10).
Dan firman Allah
Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo'a: Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan untuk kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman terlebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang8 yang telah beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10).
Catatan Kaki
[1] Tabiin = generasi setelah para sahabat.
[2] Tabi'it Tabi'in = generasi setelah tabi'in (pengikut Nabi Muhammad s.a.w. generasi ketiga).
[3] furu = cabang persoalan, seperti dalam hal halal dan haram