Cerita Legenda Rakyat Jawa : Babad Banyumas
Babad Banyumas
Sejarah Banyumas tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Galuh Kuno (dibangun jauh sebelum abad ke-5 Masehi). Krajaan tersebut dibangun di sekitar Gunung Slamet namun karena suatu alasan, kemudian dipindahkan ke Garut - Kawali (abad 6-7 Masehi) terus membentuk dan melanjutkan pemerintahan di kerajaan Galuh Kawali.
Kerajaan Galuh Purba Kerajaan Galuh Purba adalah sebuah kerajaan kuno yang dibangun oleh pendatang dari Kutai, Kalimantan sebelum agama Hindu masuk di Kutai. Garis Keturunan Galuh Kuno lalu memegang Pemerintahan kerajaan didaerah Garut - Kawali (Ciamis), dan kemudian terjadi kawin silang dengan keturunan kerajaan Kalingga (Jawa Tengah). Campuran Darah (pernikahan) juga terjadi pada masa kerajaan Galuh Kawali menjadi kerajaan Galuh Pajajaran karena banyak terjadi pernikahan antara kerabat istana Galuh Pajajaran dengan kerabat kerajaan Majapahit (Jawa), dari sanalah muncul bibit yang berkembang membentuk sejarah Banyumas.
Sejarah Banyumas juga dapat dirunut dan berkesinambungan dengan Kerajaan Galuh Kawali yang daerahnya lebih dari separuh wilayah Jawa Tengah sekarang (kemungkinan meliputi Kedu dan Purwodadi), dan wilayah Banyumas.
Ditambah juga peran sejarah dari seorang sosok Joko Kahiman Raden (putra Raden Banyak Cotro, cucu Pangeran Baribin), ia adalah seorang bangsawan yang berjiwa ksatria.
Makna Kata Banyumas memiliki makna yang luas dan dalam. Kata-kata pertamanya adalah: Air, adalah harta yang memiliki keunggulan antara lain: Air mengalir: aliran, stabil, tidak berhenti sebelum habis, tidak pernah menerjang benda-benda yang menghalangi, Namun menyesuaikan ruang kosong disampingnya.
Cerita sejarah Kerajaan-Kerajaan di kabupaten Banyumas umumnya dimulai dari Kerajaan Majapahit (abad Xil) padahal jauh sebelumnya (abad V), sudah ada Kerajaan Galuh Purba yang menguasai wilayah ini. Kerajaan Galuh Purba diduga punya Kerajaan-Kerajaan bawahan yang umurnya bisa saja lebih tua.
Wilayah kabupaten Banyumas menjadi bagian kerajaan-kerajaan lain tidak melalui perang atau penakiukan, melainkan kabupaten-kabupaten dan pemimpin-pemimpinnya (para adipati) tunduk pada kerajaan-Kerajaan ITu.
Berlanjut oleh Suatu peristiwa yang menyebabkan terbunuhnya Adipati Wirasaba ke Vi (Warga Utama ke i) karena kesalahan paham oleh Kanjeng Sultan pada waktu itu, kejadian itu berlangsung sewaktu Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Pajang.
Dari peristiwa kesalah pahaman itu, Sultan Pajang memanggil putra Adipati Wirasaba, namun tiada yang berani menghadap.
Salah satu putra menantu mencoba memberanikan diri untuk menghadap Sultan Pajang, ia mengajukan syarat pada lainnya, apabila nanti mendapatkan murka, ia sendiri yang akan menghadapinya, tapi apabila mendapatkan kemurahan, maka putra-putra yang lain tidak boleh iri hati. Dan ternyata ia diberi anugerah dengan diangkat menjadi Adipati Wirasaba ke VIl.
Semenjak itulah putra menantu yaitu R. Joko Kahiman menjadi Adipati dengan gelar ADIPATI WARGA UTAMA I. Atas daerah yang dikuasakan kepadanya, bumi Kadipaten Wirasaba dibagi menjadi empat bagian untuk diberikan kepada para iparnya. keempat wilayah itu adalah : Wilayah Banjar Pertambakan, untuk kemudian diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
Karena kebesaran dan kearifan hati Joko Kahiman yang telah membagi wilayah Kadipaten Wirasaba menjadi empat bagian, untuk dibagikan pada para iparnya itulah, maka kemudian ia dijuluki Adipati Marapat (dibagi empat).
Raden Joko Kahiman adalah putra Raden Banyaksasro dengan ibu dari Pasir Luhur. R. Banyaksosro adalan putra R. Baribin seorang pangeran bekas kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri hingga ke Pajajaran, sampai ia dijodohkan dengan Dyah Ayu Ratu Pamekas putri Raja Pajajaran.
Semenjak kecil Joko Kahiman berada dalam asuhan Kyai Sambarta dan istrinya Nyai Ngaisah, yaitu putri R. Baribin yang bungsu.
Dari sejarah terungkap bahwa R. Joko Kahiman adalah SATRIA yang sangat luhur untuk bisa diteladani, mencerminkan kebesaran hati dengan tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia juga Merupakan sosok pejuang pembangunan yang tangguh, tanggap dan tanggon. Karena kedermawanannya sebagai lambang jiwa pemersatu bagi saudara yang lain, menjadi satu darah dan memberikan kesejahteraan ke kepada semua saudaranya.