Legenda Nusantara :  Asal-Usul Ajibarang

Legenda Nusantara : Asal-Usul Ajibarang

Asal Usul Ajibarang

 

Legenda Nusantara :  Asal-Usul Ajibarang


Alkisah dijaman kerajaan dahulu, di Negeri Galuh Pakuan sedang mengalami kesengsaraan dan masa paceklik yang panjang, diakibatkan oleh musim kemarau yang tak kunjung berganti dengan musim penghujan. 


Sawah dan ladang tak menghasilkan hasil panen, lumbung-lumbung padi kosong tak terisi. Kelaparan rakyat negeri Galuh pakuan semakin melilit seiring waktu. Karena kelaparan, banyak bermunculan kejahatan yang timbul karena urusan perut.

Arya Munding Wilis adalah Adipati yang memimpin negeri Galuh pakuan kala itu, sebenarnya ia adalah pemimpin yang bijak dan arif pada rakyatnya, namun keadaan sedang menguji negerinya. Belum selesai mengatasi kesulitan yang melanda negerinya, timbul masalah yang lain.


Disaat yang sama, isterinya sedang dalam keadaan hamil tua, dan sang isteri mengidamkan daging kijang berwarna putih, yang tak bisa ditolak keinginannya. Karena kecintaan yang besar kepada isterinya, Sang Adipati Munding Wilis pun berangkat ditemani dua pengawalnya menggunakan Kuda Dawuk Ruyung kesayangannya, dan berbekal seadanya.


Berhari-hari Sang Adipati  mencari buruannya, menyusuri hutan dan gunung.  Sampai sebulan perburuannya belum juga mendapatkan hasil yang dicari.


Akhirnya mereka putuskan untuk berburu lebih jauh menuju kearah timur, dengan menyusuri Sungai Citandui. Hingga Sang Adipati beserta dua pengawalnya sampai di suatu grumbul. Yang ternyata grumbul tersebut adalah sebuah perkampungan para penjahat  yang sering berbuat kerusakan di daerah kadipatennya.


Sadar akan keberadaannya, mereka mencoba menghindar ke Gunung Mruyung, namun sang adipati terpojok dan dirampok oleh pemimpin grumbul yang bernama Abulawang. seluruh bawaan bahkan kuda kesayangan sang Adipati dirampas tak bersisa, bahkan pemimpin gerombolan mengancam akan merampok dan menghancurkan kadipatennya. Beruntungnya, mereka dilepaskan dan tak dibunuh oleh para penjahat itu.


Adipati memutuskan untuk kembali pulang ke kadipaten, karena ia sudah tak memiliki bekal dan barang bawaan apapun lagi, ditambah juga kekecewaannya karena tak mendapat hasil buruan keinginan isterinya. 


Berjalan dengan tertatih tanpa berbekal makanan, mereka menyusuri hutan. Mereka hanya berhenti bila tenaga telah habis dan hanya mengembalikan dengan tidur sekenanya. Perasaan Adipati sungguh tak karuan akan penderitaan yang menimpanya, namun semangatnya timbul ketika mengingat isteri dan kadipatennya.

Sesampainya di kadipaten, ternyata isterinya telah melahirkan, seorang putra yang tampan. Dilengan putranya tersebut terdapat "toh hitam" atau tanda lahir yang berwarna hitam, konon dalam keyakinan mereka, tanda itu merupakan "toh wisnu". Artinya, putranya kelak akan menjadi seorang yang besar lagi berbudi luhur dan bijaksana.


Penderitaan dan kesedihan yang dialami sang Adipati seketika itu hilang dan terobati. Kelahiran putranya yang istimewa dan berkumpulnya kembali bersama istri tercintanya. Seolah-olah ia tak pernah mengalami penderitaan sebelumnya.

Ternyata kegembiraan di Kadipaten itu tak berlangsung lama. Pada malam keempat setelah kelahiran putra Adipati, Abulawang, gembong penjahat yang pernah merampok Adipati, bener bener datang dengan tujuan menghancurkan dan membumi hanguskan Kadipaten. Prajurit dan pengawal tak mampu menahan keganasan Abulawang, mereka mundur kocar-kacir.

Beruntungnya sang Adipati dan istrinya selamat, namun tidak demikian dengan putra kesayangan mereka, bayi yang ditunggu oleh dua orang emban diambil paksa oleh para penjahat, ditangan Abulawang langsung.


Maka habislah sudah kadipaten Galuh Pakuan bersama kebahagiaan yang baru saja meliputi mereka, diratakan dengan tanah dan dibumi hanguskan oleh kejahatan Abulawang dan gerombolannya.

Adipati Munding Wilis dan istrinya akhirnya memutuskan pergi dari negerinya, menyamar sebagai petani kecil, pergi meninggalkan Kadipaten. Mereka bersumpah bagaimanapun caranya untuk mengambil kembali putra kesayangannya.

Dilain sisi, Bayi yang masih merah, putra Adipati, sudah sampai di kediaman Abulawang, di Gunung Mruyung. Abulawang berniat untuk merawat bayi itu untuk dijadikan anaknya. Ia akan mendidik anak tersebut, agar menjadi pemimpin para penjahat kelak menggantikan dirinya. Anak Adipati itu kemudian diberikan nama "Jaka Mruyung".


Bertahun tahun dalam asuhan Abulawang, Jaka Mruyung tumbuh menjadi pemuda gagah dan tampan, namun berada dalam lingkungan para penjahat. Berada dalam asuhan dan pendidikan kejahatan.
 

Seiring berjalan waktu dan bertambah dewasa dirinya, Jaka Mruyung merasakan bahwa dirinya tidaklah pernah merasa sepaham dengan apa yang diajarkan dengan Abulawang, orang tua angkatnya ataupun para anak buah Abulawang.


Pikirannya terus berkecamuk, batinnya tidak pernah merasakan ketenangan berada dalam lingkungan yang ia tinggali. Terus memikirkan hal yang menganjal hatinya, akhirnya Jaka Mruyung merencakan untuk meninggalkan tempat itu, Gunung Mruyung, dan mencari penawar untuk ketenangan bathinnya.
 

Hingga di waktu ia memutuskan pergi, Ia meninggalkan Gunung Mruyung diam-diam ditengah malam saat suasana hening. Jaka Mruyung pergi menggunakan kuda, perlahan hilang ditelan kegelapan malam, menuju pengembaraan baru dalam hidupnya.

Setelah menempuh perjalan yang panjang, Hingga Jaka Mruyung tiba disuatu kampung di kawasan "Dayeuhluhur". Disana ia berjumpa dengan seorang kakek tua yang menawarkan dirinya untuk beristirahat dikediamannya, Jaka Mruyung menerima tawaran kakek tersebut. 


Sejak pertama bertemu, Jaka Mruyung telah melihat tanda kebajikan didalam diri kakek tua itu, terutama sikapnya yang menunjukkan kearifan seseorang. Berbeda sekali dengan keaadaan dirinya dan lingkungan dimana ia tinggal sebelumnya, lingkungan para penjahat yang tak mengenal nilai kebaikan.
 

Dan memang benar apa yang telah dilihat Jaka Mruyung, kakek itu bernama Ki Meranggi, ia seorang bekas prajurit yang mengabdi di kerajaan Majapahit, dan keluar untuk membuat pusaka keris beserta rangkanya (Meranggi).


Karena kekagumannya dengan Ki Meranggi, Jaka Mruyung  berniat untuk mengabdi dan menimba ilmu apapun yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ki Meranggi dengan senang hati menerima Jaka Mruyung menjadi muridnya.

selama pengabdiannya dia banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman, termasuk membuat keris dan ilmu kesaktian. Semua ilmu mampu dikuasainya dalam kurun waktu empat tahun. Hingga Ki Meranggi merasa cukup mengajarkan segala ilmu yang ia miliki kepada Jaka Mruyung. 


Jaka Mruyung kini menjadi sosok yang lebih bijak dan santun. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan.Setelah berpamitan pada Ki Meranggi, Jaka Mruyung meneruskan perjalan ke Timur.


Hingga sampailah dia di perbatasan Kadipaten Kuta negara, setelah menempuh perjalan yang panjang. di tempat ini dia bertemu dengan pemuda yang menunjukkan letak Hutan Pakis Aji, Hutan ini  yang ada dalam ilhamnya ketika dalam masa pengabdiannya pada Ki Meranggi. 


Ilham yang menunjukkan, bahwa ditempat inilah ia akan menemukan kedamaian hatinya, tempat akhir dari pengembaraannya, tempat dimana ia akan membangun peradaban baru.


Sementara itu, Adipati Munding Wilis dan istrinya yang terus memegang sumpah bahwa akan terus  mencari anak mereka yang dibawa kabur oleh Abulawang, yang tak lain adalah Jaka Mruyung. Mereka terus berkelana mencari petunjuk dalam sebuah penyamaran dan tak akan berhenti sebelum menemukan anak mereka.


Hingga langkah menuntun mereka sampai didaerah Daeyuh luhur, tempat kediaman Ki Meranggi, tempat dimana Jaka Mruyung perah tinggal dan mengabdi.


Alangkah gembiranya Adipati Munding Wilis dan istrinya bertemu dengan Ki Meranggi, sosok yang pernah merangkul anak mereka. Mereka sangatlah yakin bahwa memang benar bahwa ciri-ciri yang disampaikan Ki Meranggi adalah anak mereka, sebuah tanda lahir "Toh Wisnu" dilengannya.
Dengan bergegas mereka melanjutkan pencarian setelah mendapatkan petunjuk yang diberikan Ki Meranggi.


Dan karena garis yang telah ditentukan, tanpa disangka mereka bertemu dengan pemuda yang pernah memberikan petunjuk pada Jaka Mruyung tentang letak Hutan Pakis Aji.
Adipati Munding bertambah gembira karena harapanya dan petunjuknya semakin jelas dan terang.

Sedangkan saat yang bersamaan, Jaka Mruyung telah mencapai kaki bukit sebelah barat Hutan Pakis Aji hingga terus ke Selatan mengelilingi Hutan Pakis aji, hingga sampai dia dipinggiran utara, saat terus mengelilingi hutan tersebut karena ilham yang didapatnya untuk mendiami dan mengolah hutan tersebut, ia mulai masuk ketengah hutan.


Saat Jaka Mruyung telah masuk dalam hutan, tiba-tiba muncul Ular Raksasa yang siap menyerangnya, namun karena kepiawaiannya dalam beladiri, ia dengan sangat mudah membunuh ular tersebut, dan orang-orang yang melihat kejadian tersebut diminta oleh Jaka Mruyung untuk membakar ular tersebut, mereka pun membakarnya. 


namun akibatnya hutan Pakis aji ikut terbakar, kebakaran begitu hebatnya sehingga membuat resah kadipaten Kutanegara. Jaka Mruyung  yang dianggap sebagai biang keladi pembakaran hutan pun ditangkap dan dihukum disekitar Kadipaten, ia hanya sabar menerimanya. 


Pada Masa hukumannya itu ternyata Jaka Mruyung yang tampan, sopan baik hati di sukai oleh putri kedua sang Adipati yaitu Putri Pandanayu. setelah beberapa lama,Jaka Mruyung pun dibebaskan. Dan kisah asmara mereka berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.


Berita tersebut menyebar sampai kepada Adipati Munding Wilis dan istrinya, maka pencarian mereka telah mencapai titik akhir. untuk segera bertemu dengan anak yang telah lama berpisah.


Adipati Munding Wilis lalu menemui Adipati Kutanegara dengan menampakkan jati diri sebenarnya. Betapa senangnya Adipati Kuta negara, ternyata calon mantunya adalah Adipati Besar dari Galuh Pakuan


Haru dan Bahagia pun berkecamuk diantara mereka. Acara Pernikahan segera dilakukan. 


Bertahun tahun dari kejadian itu, Adipati Kutanegara semakin lanjut usia, maka ia membaiat Jaka mruyung untuk menggantikan kepemimpinannya sebagai adipati Kuta negara.


Namun Jaka Mruyung yang tinggal di Kadipaten Kutanegara itu tidaklah merasa betah berada disana. Dia ingin untuk meneruskan ilham yang diperolehnya saat dia muda. 


Akhirnya kadipaten ia pindahkan ke hutan pakis Aji menjadi lbukota Kadipaten Kutanegara itupun lalu disebut AJIBARANG dan Kadipaten tersebut disebut Kadipaten AJIBARANG.