Dongeng Legenda : Asal Usul Tepak Bima Karanggintung
Asal Usul Tepak Bima Karanggintung
Dalam masyarakat Banyumasan khususnya daerah Karanggintung Kemranjen , terdapat kisah legenda rakyat turun temurun tentang Asal Usul Tepak Bima Karanggintung, kisah ini pun diceritakan dengan banyak versi. Legenda tentang raksasa yang turun kebumi meninggalkan sebuah jejak tapak.
Berikut adalah kisah legendanya.
Dahulu kala ada raksasa di kahyangan yang mengamuk karena kehilangan senjatanya. Dia lalu turun ke bumi untuk mencari senjatanya yang hilang berupa dua buah gada atau pentungan yang besar diujungnya.
Berhari-hari, berbulan-bulan Nini Dirga mengitari kawah namun Gada tersebut tidak ditemukannya. Dia kemudian menemui seorang tokoh penduduk desa yang bernama Ki Ragabaya, dia disambut dengan baik dan kemudian menginap di gubuknya yang sederhana. Nini Dirga menyampaikan maksud tujuannya kepadaKi Ragabaya, bahwa dia sedang mencari sepasang gada yang kemungkinan ada di sekitar kawah gunung Slamet. Ki Ragabaya bersedia membantu namun dengan satu syarat,
Singkat cerita, sampailah mereka di sekitar kawah di puncak gunung slamet. Ki Ragabaya rupanya bukan orang sembarangan, dengan kesaktiannya ia mampu menampakkan sebuah wujud benda hanya dengan merapal mantera.
Merasa dibohongi dan hasil kerja kerasnya tanpa membuahkan hasil, dia pun membaca mantera dan seketika itu juga tubuhnya melesat ke angkasa dan dalam sekejap sudah berada diatas permadani dimana sang raksasa menunggunya. Dia pun menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Termasuk tentang Ki Ragabaya yang telah menipunya.
Mendengar cerita dari Nini Dirga, sang Raksasa pun Murka. kemurkaan yang tak terbendung, membuatnya terjun dari permadani terbang dan menendang pucuk gunung Slamet hingga jatuh di daerah Purbalingga dan sekarang bernama Gunung Bathok.
Lalu dia melangkahkan kakinya mengambil ancang-ancang untuk melompat naik keatas permadani untuk kembali ke kahyangan. Bekas telapak kaki taksasa itu berada di dua desa, yaitu di Desa Kemawi kecamatan Somagede, Banyumas, Jawa Tengah (Bekas telapak kakinya dinamakan Beji dan dijadikan lapangan) sedangkan yang berada di Desa Karanggintung Kecamatan kemranjen, Bekas telapak kakinya dinamakan Tepak Bima, hingga kini dijadikan semacam telaga. Dan sampai sekarang bekas kedua telapak kaki raksasa itu masih bisa kita saksikan di kedua desa tersebut.
Letak telaga Silating kurang lebih 33 km di arah selatan dari pusat Kabupaten Pemalang. Telaga Silating juga dikenal dengan nama Telaga Tapak Bima. Sama halnya Tapak Bima di Karanggintung Banyumas, Mengenai telaga Silating juga ada sebuah legenda yang beredar di kalangan masyarakat Sikasur mengenau asal mula terbentuknya telaga Silating.
Penduduk setempat meyakini akan asal usul telaga Silating terbentuk akibat hentakan kaki dari tokoh pewayangan besar dan terkenal, yaitu Bima. Jejak kaki Bima yang membentuk sebuah cekungan tersebut menjadi keluar mata air yang menggenagi cekungan dari tapak Bima, dan dari situlah telaga Silating terbentuk, yang saat ini dikenal warga.
Oleh karena keyakinan kejadian diatas, telaga silataing juga dinamakan telaga Tapak Bima, dalam istilah Bahasa Jawa yang memiliki arti jejak Bima.