Dongeng Anak Tentang Penculik Dan Nilai Haga Diri

Dongeng Anak Tentang Penculik Dan Nilai Haga Diri

Nilai Sebuah Harga Diri

Seorang saudagar Arab pergi ke pasar untuk berbisnis. la pun mengajak anaknya. Kondisi pasar waktu itu sangat ramai sehingga membuat keduanya terpisah. Kemudian, si anak diculik oleh penjahat.

Karena mendapat kabar anaknya telah diculik, dengan segera sang Saudagar pun menyewa orang untuk menyampaikan pesan kepada penculik anaknya, bahwa ia telah menyiapkan uang tebusan seribu dinar. Kemudian, orang saudagar itu berteriak-teriak di pasar, "Bagi penculik, seribu dinar telah disiapkan oleh saudagar sebagai uang tebusan!"

Penculik yang serakah itu diam saja, untuk memancing saudagar. "Semakin lama aku menahannya, Siapa tahu saudagar menaikkan jumlah tebusannya," pikirnya.

Ternyata keEsokan harinya, orang penyampai kabar pengumuman sewaan saudagar  itu kembali ke pasar dan berteriak, "Bagi penculik, lima ratus dinar telah disiapkan oleh saudagar sebagai uang tebusan."
Penculik kaget mendengar jumlah uang tebusan justru berkurang. Tapi, ia menunggu sehari lagi.
Esoknya, orang penyampai kabar itu kembali ke pasar dan berteriak, "Bagi penculik, seratus dinar telah disiapkan oleh saudagar sebagai uang tebusan!"

Penculik semakin terkejut. Dan Karena semakin lama semakin berkurang nilai tebusannya la segera mengembalikan anak itu. Karena penasaran, penculik bertanya kepada saudagar mengapa ia justru menurunkan harga tebusannya, bukankah semakin lama uang tebusan itu semakin meningkat?.

Saudagar menjawab, "Saat hari pertama kamu menculiknya, anakku sangat marah dan menolak makan, bukan?" "Ya" jawab penculik.

"Hari kedua anakku mengambil makanan itu, bukan? Dan pada hari ketiga dia justru minta makanan?" tanya saudagar

"Ya, betul" kata penculik.

"Hari pertama, anakku mampu dengan teguh menjaga kehormatannya sehingga menolak untuk makan dari apa yang diberikan darimu, meskipun sebenarnya ia dalam kondisi lapar. Itulah kenapa aku menebusnya seribu dinar.

Hari kedua, rasa lapar membuatnya lupa pada kehormatannya. Lalu, ia menerima makananmu. Itulah kenapa aku hanya menebusnya lima ratus dinar. Pada hari ketiga, saat anakku memohon makanan padamu, dia sudah tidak punya kehormatan lagi. Maka, hanya aku hargai seratus dinar jelas si saudagar.

Pesan Moral dari cerita rakyat pendek nilai sebuah kehormatan adalah jangan menjadi anak yang serakah. Sebab, akan rnerugikanmu dirimu sendiri.