Larangan Menasehati Kebaikan Tapi Tidak Mengamalkannya Sendiri

Larangan Menasehati Kebaikan Tapi Tidak Mengamalkannya Sendiri

Larangan Menasehati Kebaikan Tapi Tidak Mengamalkannya Sendiri - Amar Ma'ruf Nahi Munkar adalah kewajiban setiap muslim, yaitu menasehati dan mengajak pada kebaikan serta mencegah kemunkaran kepada setiap orang, terutama saudara semuslim.

Larangan Menasehati Kebaikan Tapi Tidak Mengamalkannya
 

Menasehati dan mengajak pada kebaikan yang paling tepat adalah dengan mencontohkan pada yang diajak/dinasehati. Dan larangan bagi orang yang menasehati namun tidak mengamalkannya sendiri.


Firman Allah

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir?" (QS. ALBaqarah (2): 44).

Dalam ayat lain ketika berbicara tentang kisah Syu'aib , Allah berfirman:

وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَآ أَنْهَىٰكُمْ عَنْهُ

"Dan aku tidak berkehendak menyalahi (dengan mengajarkan) kamu apa yang aku larang."(QS. Huud (11): 88).

Dan firman Allah :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaf (61): 2-3).

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid to, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah bersabda:
 

"Pada hari Kiamat nanti akan dibawa seorang lelaki lalu dilemparkan ke dalam api Neraka. Maka terburailah ususnya dalam api Neraka, lalu ia berpuarputar seperti seekor keledai berputar-putar mengelilingi batu penggilingan, maka penduduk Neraka berkumpul mendekatinya dan berkata: Hai Fulan, mengapa kamu seperti ini? Bukankah dahulu kamu menyuruh kami kepada perkara ma'ruf dan melarang kami dari perkara munkar? Maka lelaki itu berkata: Dahulu aku menyuruh kamu kepada perkara ma'ruf namun aku sendiri tidak melakukannya dan melarangg kamu dari perkara munkar namun aku sendiri melakukannya." [1]

 

Diriwayatkan dari Abu Barzah al-Aslami , ia berkata, Rasulullah bersabda:
 


"Tidak akan beranjak kedua tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanyai tentang umurnya untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya apakah ia amalkan? Tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan?"[2]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rasulullah saw, beliau bersabda:
 


"Pada malam Isra', aku melihat beberapa orang lelaki yang digunting mulut mereka dengan gunting dari Neraka. Aku bertanya: "Siapakah mereka wahai Jibril?" Jibril berkata: 'Mereka adalah para khathib dari umatmu, mereka menyuruh manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri sendiri, sedangkan mereka membaca al-Kitab, apakah mereka tidak menyadarinya?"[3]

Diriwayatkan dari Jundab bin 'Abdillah te, ia berkata, Rasulullah bersabda:
 


"Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya sendiri adalah seperti lilin yang menerangi orang lain namun membakar dirinya sendiri."[4]


Kandungan Bab:

Barangsiapa tidak mengamalkan ilmunya atau perkataannya bertolak belakang dengan perbuatannya, maka ia pantas mendapat adzab yang sangat pedih, buruk dan keji. Allah membongkar aib dirinya di hadapan manusia didalam Neraka Jahannam, di mana ususnya terburai, lalu orang sok alım yang banyak berbicara ini berputar-putar mengelilinginya seperti seekor keledai.
 

Sementara orang-orang menyaksikannya dan keheranan melihat keadaannya. Lalu Allah membuatnya berbicara tentang akibat dosanya sebagai celaan pedas dari Allah atas dirinya dan celaan atas orang lain yang sama seperti dirinya.



Catatan Kaki

[1] " HR. Al-Bukhari (3267) dan Muslim (2989).
[2] Hasan lighairihi. Diriwayatkan oleh at irmidzi (2417), ad-Darimi (/135), al-Khathib al-Baghdadi dalam Iqtidhe'ul "mi al"Amal () dari jalur Sa'id bin 'Abdillah bin Juraij, dari Abu Barzah.
Saya katakan: "'Sanadnya dha'if, karena Sa'id bin 'Abdullah bin Juraij belum diketahui identitasnya.
Akan tetapi ada beberapa riwayat penyerta lainnya:
1. Hadits Abdullah bin Mas'ud yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2416) dan lainnya, dari jalur Husain bin Qais ar-Rahabi, katanya: "Atha' bin Abi Rabah telah menceritakan kepada kami dari Ibnu 'Umar, dari "Abdullah bin Mas'ud , dari Rasulullah saw
At-Tirmidzi berkata: "Hadits gharib, kami tidak mengetahui riwayat Abdullah bin Mas'ud, dari Rasulullah s melainkan dari jalur al-Husain bin Qais. Dan Husain bin Qais ini perawi dha'if karena lemah hafalannya.
Saya katakan: "Cacatnya terletak pada al-Husain bin Qais ar-Rahabi, ia adalah perawi matruk."
2. Hadits Mu'adz bin Jabal , ada dua jalur riwayat darinya:
Pertama :Dari jalur Shamit bin Mu'adz al-Jundi, dari Abdul Majid bin 'Abdil °Aziz bin Abi Rawad, dari Sufyan ats-Tsauri, dari Shafwan bin Salim, dari 'Adi bin "Adi, dari ash-Shanabihi, darı Mu'adz secara marfu.
Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam lqtidhaa-ul Wmi al-Amal (2), Taariikh
Bagbdaad (XI/441), ath-Thabrani dalam al-Kabir (XX/52/111) dan lainnya.
Saya katakan: "Sanadnya dha'if, disebabkan Shamit bin Mu'adz dan gurunya, keduanya adalah perawi dha'if. Akan tetapi riwayatnya masih bisa dipakai sebagai penguat.

Kedua : Dari jalur Laits bin Abi Salim, dari "Adi bin "Adi dari ash-Shanaabihi, dari Abu Barzah secara mauquf
Diriwayatkan oleh ad-Darimi (/135) dan al-Khathib al-Baghdadi dalam lgtidhaa-ul Wmi al Amal (3) dan lainnya.

Saya katakan: "Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Laits bin Abi Salim, ia adalah perawi dha'if karena rusak hafalannya."

Ketiga : Dari jalur 'Abdul "Aziz bin Muhammad, dari "Umarah bin Ghaziyyah, dari Yahya bin Rasyid, dari Fulan al-'Arani, dari Abu Barzah.
Diriwayatkan oleh ad-Darimi (/135).
Saya katakan: "Sanadnya dha'it, karena ada perawi yang masih mubham (tidak jelas namanya)." Hadits Mu'adz yang marfu' kelihatannya lebih shahih.
5. Hadits Abu Sa'id al-Khudri yang diriwayatkan oleh Ibnu Nashr al-Marzawi dalam kitab Ta'zhiim Qadrish Shalaah (847) dengan sanad dha'it. Sebab di dalam sanadnya terdapat perawi bernama "Athiyyah al-'Aufi, ia adalah perawi dha'if.
4. Hadits Abdullah bin 'Abbas , diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam alAusath (4782 -lihat Majma'ul Bahrain.)
saya katakan: "Dalam sanadnya terdapat perawi bernama iusain bin Hasan al-Asyqar, ia
sangat dhaif sekali dan suka memaki Salaf, riwayatnya tidak perlu dipakai. Apalagi ia menambahkan tambahan yang mungkar sekalı dalam matannya, yaitu: Dan tentang kecintaannya kepada Ahlul Bait."
Kesimpulannya: Hadits ini marfu', derajatnya hasan karena adanya hadits-hadits lain yang menyertainya selain hadits 'Abdullah bin Mas'ud dan 'Abxdullah bin 'ADbas ¥i, karena keduanya adalah hadits matruk.

[3] Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad (1/120, 180, 231, 239), Ibnu Hibban (53), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannafnya (XIV/308), Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (VIII/43, 44, 172) dan lainnya dari beberapa jalur dan Anas. Saya katakan: "Secara keseluruhan hadits ini shahih."
[4] Shahih lighairihi, diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab Iqtidha'ul Ilmi al-Amal (70) dan ath-Thabranı dalam al-Kabiir (1681) darı jalur Hisyam bin "Ammar, darn 'Ali bin Salaiman al-Kalbi, dari al-A masy, dari Abu Tamimah, dari Jundab.
Al-Haitsami berkata dalam kitab Mama 1z Lawaa-a(/185): Perawinya tsiqah," namun ditempat lain (VI/232) ia katakan: Ali bin Sulaiman al-Kalbi belum dapat aku kenali identitasnya.
Saya katakan: "Ibnu Abi Hatim telah menyebutkannya dalam kitab al-Jarh wat Ta'dil, ia berkata: 'Ayahku berkata: "Menurutku haditsnya boleh dipakai, ia termasuk shalihul hadits hanya saja kurang populer." Perawi seperti ini haditsnya hasan."
Ada jalur lain yang diriwayatkan oleh ath-Thabranı (1685) dari jalur Laits, dari Shafwan bin Muharriz, dari Jundab.
Saya katakan: "Sanad ini layak dipakai sebagai riwayat penyerta." Ada hadits lain yang mendukungnya dari hadit Abu Barzah al-Aslami yang diriwayat kan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam lqtidba'ul Umi al-Amal 1), namun dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Jabir as-Suhaimi, ia adalah perawi dha'if.
Kesimpulannya, hadits ini shahih dengan riwayat-riwayat pendukungnya. Wallaahu a 'lam.