Hukum Berinteraksi dengan Jin
Berinteraksi dengan Jin - Jin memang diakui keberadaannya dalam syariat. Sayangnya, banyak masyarakat yang menyikapinya dengan dibumbui klenik mistis. Bahkan tidak jarang, terma jin dan alam ghaib menjadi salah satu komoditi yang menyesaki tayangan berbagai media,
Fenomena alam jin Menggugah keinginan banyak orang untuk mengetahui lebih jauh dan menyingkap tabir rahasianya, terlebih ketika mereka banyak disuguhi tayangan-tayangan televisi yang sok berbau alam ghaib. Lebih parah lagi, pembahasan seputar itu tak lepas dari pemahaman mistik yang menyesatkan dan' membahayakan aqidah. Padahal alam ghaib, jin, dan sebagainya merupakan perkara yang harus diimani keberadaannya dengan benar.
Membahas topik seputar jin sendiri sejatinya sangatlah panjang, Asy-Syaikh Mugbil bin Hadi mengatakan: "Bila ada seseorang yang menulisnya, tentu akan keluar menjadi sebuah buku seperti Bulughul Maram atau Riyadhus Shalihin, dilihat dari sisi klasifikasinya, yang muslim dan yang kafir, penguasaan jin dan setan, serta godaan-godaannya terhadap Bani Adam."
Keagamaan Kaum Jin
Jin tak jauh berbeda dengan Bani Adam. Di antara mereka ada yang shalih dan ada pula yang rusak lagi jahat. Seperti firman Allah SWT menghikayatkan mereka:
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda." (Al-Jin: 11)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran." (A1-Jin: 14)
Di antara mereka ada yang kafir, jahat dan perusak, ada yang bodoh, ada yang Sunni, ada golongan Syi ah, serta ada juga golongan sufi.
Diriwayatkan dari AL-A' masy, beliau berkata: Jin pernah datang menemuiku, lalu kutanya: 'Makanan apa yang kalian sukai? Dia menjawab: 'Nasi.' Maka kubawakan nasi untuknya, dan aku melihat sesuap nasi diangkat sedang aku tidak melihat siapa-siapa. Kemudian aku bertanya: Adakah ditengah-tengah kalian para pengikut hawa nafsu seperti yang ada di tengah-tengah kami?' Dia menjawab: Ya.
Bagaimana keadaan golongan Rafidhah yang ada di tengah kalian? tanyaku, Dia menjawab: 'Merekalah yang paling jelek di antara kami'."
lbnu Katsir berkata: "Aku perlihatkan sanad riwayat ini pada guru kami, Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi, dan beliau mengatakan: 'Sanad riwayat ini shahih sampai Al-Amasy'." (Tafsir Al-Qur anul 'Azhim, 4/451)
Berdakwah kepada Jin
Dakwah memiliki kedudukan yang sangat agung. Dakwah merupakan bagian dari kewajiban yang paling penting yang diemban kaum muslimin secara umum dan para ulama secara lebih khusus. Dakwah merupakan jalan para rasul, di mana mereka merupakan teladan dalam persoalan yang besar ini.
Karena itulah Allah mewajibkan para ulama untuk menerangkan kebenaran dengan dalilnya dan menyeru manusia kepadanya. Sehingga keterangan itu dapat mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan, dan mendorong mereka untuk melaksanakan urusan dunia dan agama sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT.
Dakwah yang diemban Nabi saw adalah dakwah yang universal, tidak terbatas kepada kaum tertentu tetapi untuk seluruh manusia. Bahkan kaum jin pun menjadi bagian dari sasaran dakwahnya
Al-Qur' an telah mengabarkan kepada kita bahwa sekelompok kaum jin mendengarkan Al-Qur an, sebagaimana tertera dalam surat Al-Ahqaf ayat 29-32. Kemudian Allah menyuruh Nabi kita saw agar memberitahukan yang demikian itu. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah (hai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya, sekumpulan jin telah mendengarkan Al-Qur an, lalu mereka berkata:
'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur an yang menakjubkan'," dan seterusnya. (Lihat Al-Qur' an surat Al-Jin:1)
Tujuan dari itu semua adalah agar manusia mengetahui ihwal kaum jin, bahwa beliau diutus kepada segenap manusia dan jin. Di dalamnya terdapat petunjuk bagi manusia dan jin serta apa yang wajib bagi mereka yakni beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari akhir. Juga taat kepada Rasul-Nya dan larangan dari melakukan kesyirikan dengan jin.
Jika jin itu sebagai makhluk hidup, berakal dan dibebani perintah dan larangan, maka mereka akan mendapatkan pahala dan siksa. Bahkan karena Nabi pun diutus kepada mereka, maka wajib atas seorang muslim untuk memberlakukan ditengah-tengah mereka seperti apa yang berlaku di tengah-tengah manusia berupa amar ma'ruf nahi mungkar dan berdakwah seperti yang telah disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Juga seperti yang telah diserukan dan dilakukan Nabi saw atas mereka. Bila mereka menyakiti, maka hadapilah serangannya seperti saat membendung serangan manusia. (ldhahu Ad-Dilalah fi Umumi Ar-Risalah, hal. 13 dan 16)
Mendakwahi kaum jin tidaklah mengharuskan seseorang untuk terjun menyelami seluk-beluk alam dan kehidupan mereka, serta bergaul langsung dengannya. Karena semua ini tidaklah diperintahkan. Sebab, lewat majelis-majelis ta'lim dan kegiatan dakwah lainnya yang dilakukan di tengah-tengah manusia berarti juga telah mendakwahi mereka.
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi berkata: "Bisa jadi ada sebagian orang mengira bahwa para jin itu tidak menghadiri majelis-majelis ilmu. Ini adalah sangkaan yang keliru. Padahal tidak ada yang dapat mencegah mereka untuk menghadirinya, kecuali di antaranya ada yang mengganggu dan ada setan-setan. Maka Kita katakan
"Ya Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku. " (Al Mu minun: 97-98) [lihat Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Adakah Rasul dari Kalangan Jin?
Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini, apakah dari kalangan jin ada rasul, ataukah rasul itu hanya dari kalangan manusia? Sementara Allah berfirman:
Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?" Mereka berkata: 'Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri. Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-An'am: 130)
Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan bahwa ada rasul dari kalangan jin. Juga berdalilkan dengan sebuah atsar (riwayat) dari Adh-Dhahhak ibnu Muzahim. Beliau mengatakan bahwa ada rasul dari kalangan jin. Yang berpendapat seperti ini di antaranya adalah Muqatil dan Abu Sulaiman, namun keduanya tidak menyebutkan sandaran (dalil)-nya. (Zadul Masir, 3/125)
Yang benar, wal 'ilmu 'indallah, tidak ada rasul dari kalangan jin. Dan pendapat inilah yang para salaf dan khalaf berada di atasnya. Adapun atsar yang datang dari Adh-Dhahhak, telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (12/121). Namun didalam sanadnya ada syaikh (guru) lbnu Jarir yang bernama lbnu Humaid yakni
Muhammad bin Humaid Abu Abdillah Ar-Razi. Para ulama banyak membicarakannya, seperti AI-Imam AI-Bukhari telah berkata tentangnya: "Fihi nazhar (perlu ditinjau kembali)." Al-Imam Adz-Dzahabi s berkata: "Dia, bersamaan dengan kedudukannya sebagai imam, adalah mungkarul hadits, pemilik riwayat yang aneh-aneh." (Siyarul Alam An-Nubala', 11 / 530). Lebih lengkapnya silahkan pembaca merujuk kitab-kitab al- jarhu wa ta'dil.
Ibnu Katsir 4 berkata: "Tidak ada rasul dari kalangan jin seperti yang telah dinyatakan Mujahid dan Ibnu Juraij serta yang lainnya dari para ulama salaf dan khalaf. Adapun berdalil dengan ayat -yakni Al-An'am: 130-, maka perlu diteliti ulang karena masih terdapatnya kemung-kinan, bukan merupakan sesuatu yang sharih (jelas pendalilannya). Sehingga kalimat 'dari golongan kamu sendiri maknanya adalah dari salah satu golongan kamu'." (Lihat Tafsir Al-Qur' anul 'Azhim, 2/188)
Menikah dengan Jin
Menikah adalah satu-satunya cara terbaik untuk mendapatkan keturunan. Karena itulah Allah mensyariatkannya untuk segenap hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan." (An-Nuur: 32)
Kaum jin memiliki keturunan dan anak Keturunannya beranak-pinak, sebagaimana manusla berketurunan dan anak keturunannya beranak-pinak. Allah berfirman
Patutkah kalian mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku , Sedangkan mereka adalah musuh kalian?" (AI-Kahfi: 50)
Kalangan kaum jin itu ada yang berjenis laki-laki dan ada juga perempuan, sehingga untuk mendapatkan keturunan merekapun saling menikah. Allah berfirman:
"Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin." (Ar-Rahman: 56)
Artha'ah Ibnul Mundzir berkata: Dhamrah ibnu Habib pernah ditanya: Apakah jin akan masuk surga? Beliau menjawab:Ya, dan mereka pun menikah. Untuk jin yang laki-laki akan mendapatkan jin yang perempuan, dan untuk manusia yang jenis laki-laki akan mendapatkan yang jenis perempuan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, 4/288)
Termasuk kasih sayang Allah terhadap Bani Adam, Allah menjadikan untuk mereka suami-suami atau istri-istri dari jenis mereka sendiri. Allah s berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (Ar-Rum: 21)
Perkara ini, yakni pernikahan antara manusia dengan manusia adalah hal yang wajar, lumrah dan sesuai tabiat, karena adanya rasa cinta dan kasih sayang ditengah-tengah mereka. Persoalannya, mungkinkah terjadi pernikanan antara manusia dengan jin, atau sebaliknya jin dengan manusia?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Pernikahan antara manusia dengan jin memang ada dan dapat menghasilkan anak. Peristiwa ini sering terjadi dan populer. Para ulama pun telah menyebutkannya. Namun kebanyakan para ulama tidak menyukai pernikahan dengan jin." (Idhahu Ad-Dilalah hal. 16)
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi mengatakan: "Para ulama telah berselisih pendapat tentang perkara ini sebagaimana dalam kitab Hayatul Hayawan karya Ad Dimyari. Namun menurut beberapa ulama, hal itu diperbolehkan, yakni laki-laki yang muslim menikahi jin wanita yang muslimah. Adapun firman Allah :
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya...(Ar-Rum: 21),
maka -maknanya- ini adalah anugrah yang terbesar di mana manusia yang jenis laki-laki menikah dengan manusia yang jenis perempuan, dan jin laki-laki dengan jin perempuan.
Tetapi jika seorang laki-laki dari kalangan manusia menikah dengan seorang perempuan dari kalangan jin, maka kita tidak memiliki alasan dari syariat yang dapat mencegahnya. Demikian juga sebaliknya
Hanya saja Al-Imam Malik tiada menyukai bila seorang wanita terlihat dalam keadaan hamil, lalu dia ditanya: "Siapa suamimu? Dia menjawab: "Suamiku dari jenis jin.
Saya (Asy-Syaikh Muqbil) katakan: Memungkinkan sekali fenomena yang seperti ini membuka peluang terjadinya perzinaan dan kenistaan." (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Meminta Bantuan Jin
Sangat rasional dan amatlah sesuai dengan fitrah bila yang lemah meminta bantuan kepada yang kuat, dan yang kekurangan meminta bantuan kepada yang serba kecukupan.
Manusia lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya daripada jin. Sehingga sangatlah jelek dan tercela bila manusia meminta bantuan kepada jin. Selain itu, bila ternyata yang dimintai bantuannya adalah setan, maka secara perlahan, setan itu akan menyuruh kepada kemaksiatan dan penyelisihan terhadap agama Allah. Allah SWT berfirman:
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin. Maka jin-jin itu menambah ketakutan bagi mereka." (Al-Jin: 6)
Ibnu Mas' ud berkata: "Ada sekelompok orang dari kalangan manusia yang menyembah beberapa dari kalangan jin, lalu para jin itu masuk Islam. Sementara sekelompok manusia yang menyembahnya itu tidak mengetahui keislamannya, mereka tetap menyembahnya sehingga Allah SWT mencela mereka." (Diambil dari Qa'idah Azhimah, Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah hal. 24)
Jin tidak mengetahui perkara yangghaib dan tidak punya kekuatan untuk memberikan kemudharatan tidak pula mendatangkan kemanfaatan. Allah berfirman:
"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kematiannya itu kepada mereka kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan." (Saba':14)
Jin tidak memiliki kemampuan untuk menolak mudharat atau memindahkannya. Jin tidak bisa mentransfer penyakit dari tubuh manusia ke dalam tubuh binatang. Demikian pula manusia, tidak punya kemampuan untuk itu. Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ لَهُۥ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَٰنٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِٱلْءَاخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِى شَكٍّ ۗ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَفِيظٌ
قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِن شِرْكٍ وَمَا لَهُۥ مِنْهُم مِّن ظَهِيرٍ
"Dan tidak adalah kekuasaan lblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu, Katakanlah: 'Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi. Dan mereka tidak mempunyai suatu peran apapun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya'." (Saba': 21-22)
Gangguan Jin
Secara umum, gangguan jin merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi Keberadaannya, baik menurut pemberitaan Al-Qur' an, As-Sunnah, maupun ijma . Allah SWT berfirman:
Diriwayatkan dari 'Utsman bin Abil Ash , ia berkata:
"Dan jika setan mengganggumu dengan Suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat: 36)
Rasulullah s bersabda:
Sesungguhnya setan menampak-kan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah memberikan kekuasaan kepadaku untuk menghadapinya. Maka aku pun membiarkannya. Sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya, Tapi aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman as: "Ya Rabbi anugerahkanlah kepada-ku kerajaan yang tidak dimiki seorang pun sesudahku', Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina." (HR. AI-Bukhari no. 4808, Muslim no, 541 darí Abu Hurairah )
Suatu ketika Rasulullah sedang mendirikan shalat, lalu didatangi setan. Beliau memegangnya dan mencekiknyya Beliau bersabda:
"Hingga tanganku dapat merasakan lidahnya yang dingin yang menjulur di antara dua jariku: ibu jari dan yang setelahnya. (HR. Ahmad, 3/82-83 dari Abu Sa'id Al Khudri )
"Wahai Rasulullah, setan telah menjadi penghalang antara diriku dan shalatku serta bacaanku. " Beliau se bersabda: "Itulah setan yang bernama Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ke arah kiri tiga kali." Aku pun melakukannya dan Allah telah mengusirnya dari sisiku. (HR. Muslim no. 2203 dari Abul 'Ala')
Gangguan jin juga bisa berupa masuknya jin ke dalam tubuh manusia yang diistilahkan orang sekarang dengan kesurupan atau kerasukan.
Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah berkata: "Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta kesepakatan salaful ummah dan para imamnya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia adalah perkara yang benar dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah berfirman:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." (Al- Baqarah: 275)
Dan dalam hadits yang shahih dari Nabi
Sesungguhnya setan itu berjalan di dalam diri anak Adam melalui aliran darah."
Tidak ada imam kaum muslimin yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Siapa yang mengingkarinya dan menyatakan bahwa syariat telah mendustakannya, berarti dia telah mendustakan syariat itu sendiri. Tidak ada dalil-dalil syar'i yang menolaknya. (Majmu'ul Fatawa, 24/276-277, diambil dari tulisan Asy-Syaikh lbnu Baz, Idhahul Haq)
lbnul Qayyim juga telah panjang lebar menerangkan masalah ini. (Lihat Zadul Ma'ad, 4/66-69)
Golongan yang Mengingkari Masuknya Jin ke dalam Tubuh Manusia (Kesurupan)
a. Kaum orientalis, musuh-musuh Islam yang tidak percaya kecuali kepada hal-hal yang bisa diraba panca indra.
b. Para ahli filsafat dan antek-anteknya, mereka mengingkari keberadaan jin. Maka secara otomatis merekapun mengingkari merasuknya jin ke dalam tubuh manusia,
c. Kaum Mu' tazilah, mereka mengakui adanya jin tetapi menolak masuknya jin ke dalam tubuh manusia,
d. Prof. Dr. 'Ali Ath-Thanthawi, guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo. la mengingkari dan mendustakan terjadinya kesurupan karena jin dan menganggap hal itu hanyalah sesuatu yang direkayasa (lihat artikel Idhahul Haq fi Dukhulil Jinni Fil Insi, Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz S)
e. Dr. Muhammad Irfan. Dalam surat kabar An-Nadwah tanggal 14/L0/1407 H, menyatakan bahwa: "Masuknya jin ke dalam tubuh manusia dan bicaranya Jin lewat lisan manusia adalah pemahaman ilmiah yang salah 100%." (Idhahul Haq)
f. Persatuan Islam (PERSIS). Dalam Harian Pikiran Rakyat tanggal 5 September 2005, mengeluarkan beberapa pernyataan yang diwakili Dewan Hisbahnya, sebagai berikut: "Poin 7... Tidak ada kesurupan jin, keyakinan dan pengobatan kesurupan jin adalah dusta dan syirik."
Semua pengingkaran atas kemampuan masuknya jin ke dalam tubuh manusia adalah batil. Hanya terlahir dari sedikitnya ilmu akan perkara-perkara yang syar'i dan terhadap apa yang ditetapkan ahlul ilmi dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata: "Aku pernah berkata pada ayahku:
'Sesungguhnya ada sekumpulan kaum yang berkata bahwa jin tidak dapat masuk ketubuh manusia yang kerasukan. Maka ayahku berkata: 'Wahai anakku, tidak benar. Mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara lewat lidahnya." (ldhahu Ad-Dilalah, atau lihat Majmu'ul Fatawa, 19/10)
Berikut ini pernyataan para mufassir (ahli tafsir) berkenaan dengan firman Allah
"Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila." (Al-Baqarah: 275)
Al-Imam lbnu Jarir Ath-Thabari mengatakan: "Yakni bahwa orang-orang yang menjalankan praktek riba ketika didunia, maka pada hari kiamat nanti akan bangkit dari dalam kuburnya seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan yang dirusak akalnya di dunia. Orang itu Seakan kerasukan setan sehingga menjadi seperti orang gila." (Jami' AI-Bayan Fi Tafsir Al-Qur' an, 3/96)
Al-Imam Al-Qurthubi menegaskan: "Ayat ini adalah argumen yang mementahkan pendapat orang yang mengingkari adanya kesurupan jin dan menganggap yang terjadi hanyalah faktor proses alamiah dalam tubuh manusia serta bahwa setan sama sekali tidak dapat merasuki manusia." (Al-Jami' li Ahkamil Qur an, 3/355)
Al-Imam Ibnu Katsir berkata: "Yakni mereka tidak akan bangkit dari kuburnya pada hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan saat setan itu merasukinya." (Tafsir Al-Qur anul Azhim, 1/359)
Penyebab Kesurupan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa masuknya jin pada tubuh manusia bisa jadi karena dorongan syahwat, hawa nafsu dan rasa cinta kepada manusia, sebagaimana yang terjadi antara manusia satu sama lainnya. Terkadang atau bahkan mayoritasnya- juga karena dendam dan kemarahan atas apa yang dilakukan sebagian manusia seperti buang air kecil, menuangkan air panas yang mengenal sebagian mereka, serta membunuh sebagian mereka meskipun manusia tidak mengetahuinya,
Kalangan jin juga banyak melakukan kedzaliman dan banyak pula yang bodoh, sehingga mereka melakukan pembalasan diluar batas. Masuknya jin ke tubuh manusia terkadang disebabkan keisengan sebagian mereka dan tindakan jahat yang dilakukannya. (ldhahu Ad-Dilalah Fi "Omumi Ar Risalah, hal. 16)
Bagaimana kita menghindari gangguan-gangguan itu? Ibnu Taimiyah ai menjelaskan:
"Adapun orang yang melawan permusuhan jin dengan cara yang adil sebagaimana Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka dia tidak mendzalimi jin. Bahkan ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menolong orang yang terdzalimi, membantu orang yang kesusahan, dan menghilangkan musibah dari orang yang tertimpanya, denga cara yang syar'i dan tidak mengandung syirik serta tidak mengandung kedzaliman terhadap makhluk Yang seperti ini, jin tidak akan mengganggunya, mungkin karena jin tahu bahwa dia orang yang adil atau karena jin tidak mampu mengganggunya. Tapi bila jin itu dari kalangan yang sangat jahat, bisa jadi dia tetap mengganggunya, tetapi dia lemah. Untuk yang seperti ini, semestinya ia melindungi diri dengan membaca ayat Kursi, Al-Falaq, An-Nas (atau bacaan lain yang semakna), shalat, berdoa, dan semacam itu yang bisa menguatkan iman dan menjauhkan dari dosa-dosa..." (ldha Ad-Dilalah, hal. 138)
Wal'ilmu 'indallah.
26 No2V1427 W/2006
Catatan Kaki
1. Di antara ulama yang berpendapat terlarangnya hal itu adalah Asy-Syaikh Muhammad A-Amin Asy-Syinqithi
Bellau mengatakan: "Saya tidak mengetahui dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah saw adanya dalil yang menunjukkan bolehnya pernikahan antara manusia dan jin. Bahkan yang bisa dijadikan pendukung dari dzahir ayat adalah tidak bolehnya hal itu. (Adhwa' ul Bayan, 3/321)
Badruddin Asy-Syibli dalam bukunya Aakamul Mirjan mengemukakan bahwa sekelompok tabi'in membenci pernikahan jin dengan manusia, Di antara mereka adalah Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Hajjaj bin Arthah, demikian pula sejumlah ulama Hanafiyah.