
5 Bukti Allah Memberi Kehendak Bebas Kepada Manusia
Bukti Allah Memberi Kehendak Bebas Kepada Manusia - Qadha Allah itu datang dari rahmat dan hikmah(kebijaksanaan) dari Allah, yang ditetapkan bagi kita.

Disamping itu kita meyakini bahwa Allah SWT memberikan ikhtiar (usaha) dan kemampuan bagi hamba Nya untuk melakukan sesuatu perbuatan.
Bukti Allah Memberi Kehendak Bebas
Dalil bahwa perbuatan manusia adalah atas ikhtiar dan usahanya sendiri adalah firman Allah, antara lain:
Pertama:
Firman Allah:
فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْArtinya: "Maka datangilah ladang tempat engkau bercocok tanam itu sebagaimana kamu kehendaki." (Al-Baqarah: 223).
وَلَوْ أَرَادُوا۟ ٱلْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا۟ لَهُۥ عُدَّةًArtinya: "Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu." (Ar-Taubah: 46).
Maka Allah SWT, dalam ayat di atas menetapkan bahwa seorang hamba berhak mendatangi ladangnya (isterinya) sesuai kehendaknya dan boleh mengadakan persiapan sesuai kemauannya.
Kedua:
Memberikan perintah atau larangan kepada hamba, adalah berdasarkan pertimbangan
adanya ikhtiar (usaha) dan qudrah (kemampuan) hamba. Kalau tidak ada ikhtiar dan kemampuan pada hamba tidak perlu adanya perintah atau larangan, sebab berarti Allah telah memberikan perintah atau larangan kepada hamba untuk sesuatu yang tak mungkin dilaksanakan atau ditinggalkan (karena tak ada ikhtiar dan kemampuan pada hamba tersebut), dan ini pasti mustahil bagi Allah SWT. Allah SWT Berfiman:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاArtinya: "Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al-Baqarah: 286).
Ketiga:
Pujian bagi yang berbuat baik dan celaan bagi yang berbuat jahat, serta memberikan balasan masing-masing sesuai dengan perbuatan mereka. Sekiranya suatu perbuatan terjadi bukan atas kehendak dan ikhtiar manusia, tidaklah ada artinya pujian dan celaan itu, pujian akan berarti Sia-Sia dan celaan akan berarti penganiayaan. Dan sesuatu yang tidak ada artinya tentu mustahil bagi Allah SWT.
Keempat:
Allah SWT mengutus para Rasul-Nya untuk memberi kabar gembira dan kabar peringatan.
Firman Allah SWT:
رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ ٱلرُّسُلِArtinya: "Mereka Kami utus sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manuSia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul. (An-Nisa:165)
Kalaulah perbuatan manusia terjadi tidak atas kehendak dan kemauannya, tentu kerasulan itu tidak dapat menjadi hujjah atas mereka.
Kelima:
Setiap orang dalam berbuat sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, merasa tidak ada yang memaksanya atau menyuruhnya. Dia berdiri semaunya, dia duduk, pergi, masuk dan keluar, dia berjalan atau tidak berjalan atas kemauannya sendiri.Sunggun sangat berbeda perbuatan yang dilakukan karena terpaksa dan perbuatan atas kemauan sendiri. Begitu juga agama Islam, ia memberikan perbedaan yang sangat besar antara orang yang berbuat secara terpaksa dan yang berbuat dengan kehendaknya, yaitu dengan tidak menyiksa orang yang melanggar Allah, Jika dilakukan karena terpaksa.
Dengan demikian, tidak benar alasan orang yang berbuat maksiat bahwa perbuatan itu sudah merupakan taqdir Allah atas dirinya, karena ia melakukan maksiat itu dengan kehendaknya tanpa ia ketahui bagaimana qadar Allah atas dirinya dan tak seorang pun tahu apa qadar Allah kecuali sesudah terjadi. Allah SWT berfirman:
وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاArtinya: "Dan tidak seorangpun mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya esok," (Luqman: 34)
Maka kita tidak dapat beralasan dengan qadar, karena kita tidak tahu sebenarnya qadar apa yang akan terjadi pada kita. Allah SWT membatalkan cara-cara yang demikian dalam firman-Nya:
سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟ لَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشْرَكْنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن شَىْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا۟ بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَآ ۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَArtinya: "Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan berkata: Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apapun. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan para Rasul Sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: 'Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu kemukakan Kepada Kami. Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tiada lain hanyalah berdusta." (AL-An'am: 148).
Dan kita dapat mengatakan kepada orang-Orang yang berbuat maksiat, dengan alasan sudah taqdir Allah: Mengapa kalian tidak melakukan perbuatan taat dengan alasan bahwa itu juga sudah taqdir Allah SWT? Sebab tidak ada bedanya antara perbuataan taat dan maksiat yang belum jelas taqdirnya sebelum engkau lakukan. Untuk itulah, tatkala Rasulullah S.a.w. bersabda kepada para sahabatnya bahwa setiap pribadi telah ditentukan tempatnya apakah di surga atau di neraka, maka salah seorang sahabat bertanya: Kalau begitu kita berserah diri saja kepada qadar yang tertulis itu dan tidak usah beramal? Maka Rasulullah S.a.w. menjawab: Jangan, kamu harus beramal dan berusaha. Dan segala sesuatu akan berjalan sesuai ketentuan yang telah digariskan Allah.
Demikian juga dapat kita katakan, bahwa apabila anda bermaksud pergi ke Makkah. Dan untuk ke Makkah itu ada dua jalan, satu jalan sulit dan sukar, dan satu lagi jalan mudah dan gampang. Maka dalam hal ini pasti anda akan memilih jalan yang mudah dan gampang.
Dalam hal ini, jika anda pilih jalan yang sulIt dan sukar, tentu anda akan dikatakan orang gila. Dan anda tidak akan mengatakan bahwa jalan inilah yang ditaqdirkan (qadar) buat anda.
Sebagaimana jika kepada anda ditawarkan dua jabatan, yang satu kedudukan yang baik serta gaji besar, dan yang satu lagi jabatan yang rendah dan gaji kecil. Maka pastilah anda akan memilih pekerjaan yang bergaji besar, dan anda tidak akan memilih pekerjaan yang bergaji kecil dan kemudian berkata bahwa inilah qadar yang telah ditentukan.
Demikian pula halnya dengan sakit jasmani yang anda derita, pastilah anda akan berusaha keras untuk pergi berobat ke dokter dan sabar atas pengobatannya itu. Dan jika perlu dilakukan operasi sekalipun. Anda sabar betapa pun pahitnya obat yang harus anda telan. Maka mengapa hal itu tidak anda lakukan dalam mengobati penyakit hati anda sebab maksiat ?
Selain itu kita mempercayai, bahwa segala Kejahatan dan hal-hal yang tidak baik itu tidak dapat dinisbahkan kepada Allah SWT, karena Allah penuh rahmat dan kasih sayang serta penuh hikmah bijaksana, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Besar kita Muhammad s.a.w.:
Artinya: "Nabi s.a.w. bersabda:
"Kejahatan datangnya tidak dari Engkau, ya Allah," (Riwayat Muslim).
Qadha Allah itu tidak akan berwujud buruk jahat) selamanya, karena Qadha Allah itu datang dari rahmat dan hikmah(kebijaksanaan) dari Allah. (Kita tidak mengetahui apa hikmah yang sebenarnya dari Qadha Allah yang ditetapkan bagi kita.)
Kejahatan atau hal-hal yang tidak baik itu datang sesuai dengan ketentuan Allah, sebagaimana disebutkan dalam do'a yang diucapkan Rasulullah s.a.w. di waktu membaca do'a qunut:
"Dan jauhkanlah aku dari hal-hal yang tidak baik atas ketentuan Engkau.
Hal yang tidak baik itu bukanlah semata-mata tidak baik secara keseluruhan, tapi dari SISI lain tentu ada baiknya. Kerusakan di atas permukaan bumi, berbentuk wabah, kelaparan dan rasa takut adalah hal yang tidak baik, tapi dari segi lain ada kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَArtinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (Ar-Rum: 41).
Pemberian hukuman potong tangan kepada pencuri dan hukuman rajam bagi pezina adalah tidak baik bagi mereka, karena mereka kehilangan tangan dan nyawa. Tapi dari segi lain adalah baik baginya karena hukuman itu menjadi kaffarah (penghapus dosanya). Mereka tidak akan diazab lagi di hari kemudian, karena mereka tidak akan menerima dua azab dalam perbuatan (hukuman dunia dan hukuman akhirat). Disamping itu, dari sisi lain juga merupakan kebaikan, karena di dalamnya terdapat upaya untuk menjaga harta dan memelihara kehormatan dan keturunan