Dongeng Anak Tentang Kisah Kancil, Kecoak Dan Pak Tani

Dongeng Anak Tentang Kisah Kancil, Kecoak Dan Pak Tani

Kancil dan Kecoak

Dongeng kali ini menceritakan tentang keresahan seekor kecoak yang terancam keberadaannya oleh seorang petani, dan kekhawatirannya terselesaikan berkat kecerdikan sang kancil.

Pada suatu hari Kancil bertemu dengan seekor kecoa yang mengadu karena dirinya selalu diburu petani di rumahnya karena dianggap mengganggu. Dengan keadaan sedih, Kecoa diutus teman-temannya berjalan jauh masuk ke dalam hutan semata-mata untuk minta petunjuk Sang Kancil yang cerdik.

Setelah menempuh perjalanan yang jauh kedalam hutan sendirian, akhirnya kecoak bertemu dengan kancil. Kecoak pun menceritakan maksudnya dan cerita panjang lebar pada Kancil yang sangat bIjaksana.

Sambil menagis tersedu-sedu kecoak mengadu pada kancil, aku selama ini dikejar-kejar oleh Pak Tani dan keluarganya tiap kali ada di dapur dan di ruang makan mereka. Padahal kami hanya mencari makan di sana, tidak berniat mengganggu sama sekali".

Sang Kancil tersenyum mendengar keluhan temannya itu, lalu menjawab pertanyaan Kecoa dengan kalimat singkat. "Masuklah ke rumahku. Bacalah buku tentang kehidupan kecoa, dan buku tentang kehidupan petani serta tempat tinggalnya. Setelah itu datang lagi padaku".

Selama satu minggu penuh, Kecoa menginap di rumah Kancil untuk membaca buku-buku tentang kehidupan kecoa dan tentang rumah petani yang disarankan oleh kancil. Dia bekerja keras memahami dan mencatat point-point penting dari buku yang dibacanya.

Sebelum kejadian ini dia pernah diajar Sang Kancil tentang cara membaca dan memahami buku dengan cepat. Setelah menyelesaikan bacaannya, tepat Seminggu kemudian dia kembali menghadap Sang Kancil dengan muka muram.

"Wahai Sang Kancil yang bijaksana. Aku telah membaca bukU-buku tentang Kecoa dan tentang rumah petani di rumahmu. Tapi aku tidak tahu apa gunanya bagiku?.

Aku benar-benar tidak paham dan menemukan cara mengatasi masalahku sebagai sekelompok Kecoa yang dikejar-kejar petani". Sang Kancil lalu menjawab dengan sabar atas ketidak pahaman Si Kecoa menemukan jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya.

Tahukah kamu apakah yang suka dimakan kecoa?"

"Mirip dengan makanan manusia dan hewan peliharaan. Tapi selama ini aku cukup puas dengan makanan sisa di kamar makan, di dapur dan tempat cuci piring" "Selain di dapur ada di mana lagi makananmu tersedia di rumah petani?". Kemudian Kecoa diam sejenak sambil membuka-buka catatannya.

Hmmmm...menurut buku tentang rumah petani,mereka memiliki tempat sampah untuk membuang sisa makanan. Itu bisa jadi sumber makanan bagiku" "Lalu mengapa Petani mengejar-ngejar kamu?

"Didalam buku yang baru dibacanya, dikatakan kalau kecoa adalah hewan yang mudah membawa banyak kuman, dan hal itu bisa membahayakan manusia. Jadi Pak Tani takut kuman yang menempel di permukaan tubuhmu akan menyebar kemana-mana dan membuat keluarganya sakit "Nah itu jawabannya. Pergilah pulang dan berpikirlah.

Kamu pasti tahu jawaban atas masalahmu Dengan penuh tanda tanya Kecoa terpaksa pulang kembali ke rumahnya. Dia malu untuk bertanya-tenya lagi, secara dia sudah dianggap mampu mencari jawaban sendiri. Sambil berjalan pulang Si Kecoa berpikir keras, berusaha menghuburng-hubungkan pertanyaan Sang Kancil dengan resep agar tidak dikejar-kejar petani. Sampai akhirnya dia menemukannya.

Si Kecoa meloncat-loncat kegirangan atas penemuan jawaban itu. Rasanya tak sabar lagi untuk menemui teman-temannya.

"Ahaay...! Aku tahu jawabannyal!. Teman-teman

kita harus pindah ke tempat sampah Pak Tani yang ada jauh didalam kebun. Pak Tani membuat tempat seperti gubuk untuk menimbun sampah dan dibuat Kompos. Tempat itu cukup aman dan nyaman untuk kecoa yang suka sekali tempat hangat. Kita harus pindah ke situ!. Yah Paling tidak, jarang sekali kita diburu oleh Pak Tani, karena mereka jarang berada lama di sana" teriak Kecoa pada teman-temannya saat dia telah dekat dengan rumah. dapur dan kamar makan.

Dengan kecerdikan dan bijaksana Sang Kancil tidak langsung memberi jawaban atas masalah yang dihadapi kecoa, karena dia tidak ingin membuat kecoak tersinggung dengan mengatakan kalau Kecoak memang penuh dengan kuman dan tidak seharusnya dekat dengan manusia.

Kancil percaya, Si Kecoa dapat memahami pesan kancil dan mencari sendiri jawaban atas masalah yang dihadapinya.